Sampah Upakara Jangan Sampai Merusak Keasrian Sekitar Pemandangan Pura Goa Giri Putri
SAMPAH UPAKARA JANGAN SAMPAI MERUSAK
KEASRIAN SEKITAR PEMANDANGAN PURA GOA GIRI PUTRI NUSA PENIDA
Sumber :Dokumentasi
Pribadi Purnamaningsih, 2015.
Pura
Goa Giri Putri yang terletak di Dusun Karangsari, Desa Pakraman Suana,
Kecamanatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pura ini memiliki keindahan
tempatnya yang begitu asri, dan memiliki kekuatan magis/getaran spiritualnya
yang begitu kuat.Hal ini membuat seluruh umat Hindu
yang ada di Indonesia, berbondong-bondong untuk berkunjung ataupun
melakukan tirtayatra ke Pura Goa Giri Putri tersebut.Kata Pura
Goa Giri Putri ini berasal dari kata "giri" yang berarti
gunung, pegunungan atau pun bukit.Sementara"putri"artinya
wanita.Dalam konsep ajaran Hindu, "putri", yang dimaksud
adalah nama simbolis bagi kekuatan Tuhan, memiliki sifat keibuan ataupun
kewanitaan. Jadi Goa Giri Putri adalah sebuah ruang atau rongga dengan ukuran
tertentu sebagai tempat bersemayam kekuatanTuhan dalam manifestasinya berupa
wanita (disebut Sang Hyang Giri Putri), tiada lain adalah salah
satu sakti dari kekuatanTuhan dalam wujud-Nya sebagai Siwa. Giri
Putri adalah nama yang diberikan pada salah satu goa terbesar yang berada di
Pulau Nusa Penida. Berbagai keunikan dalam Pura Goa Giri Putri, menjadi suatu
hal yang tidak pernah habisnya bagi masyarakat Hindu di seluruh Indonesia untuk
dapat berkunjung dan melakukan perjalanan suci persembahyangan ketempat
tersebut.Bahkan sampai ada yang menginap semalaman suntuk di dalam
Goa Giri Putri atau sering juga disebut dengan istilah "makemit",
bagi umat Hindu di Bali. Salah satu keunikan dari Pura Goa Giri Putri ini,
bahwa di dalam goa tersebut, ada pelinggih atau tempat pemujaan kepada Dewi
Kwan-im yang merupakan peninggalan dari Agama Budha.Hal ini merepresentasikan
bahwa adanya multikulturalisme dalam beragama antara Hindu dan Budha.Adanya
kepercayaan dalam memuja dan memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi
Wasa secara bersama-sama oleh umat Hindu, dengan tujuan untuk
kesejahteraan dan kebahagiaan di dalam diri beserta alam semesta sebagai tempat
tumbuh dan berkembangnya seluruh makhluk hidup.Tanpa adanya kemahakuasaan
Beliau sebagai Sang Pencipta, tidak mungkin kita semua dapat menikmati
keindahan dan kehidupan di dunia ini.
Eksistensi Pura Goa Giri putri, selalu
memberikan pesona magis bagi setiap pengunjung atau pemedek yang
tangkil ke pura tersebut. Banyaknya pemedek yang tangkil ke Pura Goa Giri Putri
yang berasal dari daerah Bali itu sendiri bahkan sampai daerah luar Bali.
Para pemedek yang berdatangan tangkil, biasanya
membawa banten/upakara pribadi yang dibuat ataupun disiapkan dari
rumah. Banyaknya pemedek yang melakukan persembahyangan di Pura Goa
Giri Putri, berdampak pada permasalahan sampah upakara seperti, kresek tempat
canang, plastik dupa, ataupun sampah upakara yang lain. Terkadang hal ini dianggap sebagai masalah
kecil, namun jika dibiarkan maka akan menjadi masalah yang besar nantinya dapat
merusak lingkungan di sekitar Pura Goa Giri Putri tersebut. Kepedulian
setiap pemedek yang datang sangat dibutuhkan dalam hal ini dan
juga didukung penuh oleh kesadaran masyarakat yang tinggal di sekitar Pura Goa
Giri Putri. Padahal peringatan untuk menjaga kebersihan Pura Goa Giri Putri
sudah terpampang di sudut-sudut area pura, untuk menjaga kebersihan pura dengan
membuang sampah upakara pada tempatnya. Namun, masih saja ada beberapa
pemedek/pengunjung yang datang, tidak semua dapat merealisasikan aturan
tersebut. Kurangnya rasa kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan. Hal ini
dibuktikan dari gambar di atas yang diambil dari tebing-tebing sekitar Pura Goa
Giri Putri. Tampak jelas terlihat banyaknya sampah berupa plastik,
kresek, canang-canang kering yang menyangkut bertebaran di
antara ranting-ranting pohon yang tumbuh di tebing-tebing luar area Pura Goa
Giri Putri. Jelas hal demikian, membawa dampak yang negatif bagi kebersihan dan
keasrian pura tersebuut. Sebenarnya, untuk menciptakan lingkungan yang bersih
adalah dimulai dari kesadaran dan kepedulian manusia yang tertanam di dalam
dirinya.Peraturan yang dipampang bertujuan untuk memperingati setiap umat agar
menjaga kebersihan Pura Goa Giri Putri, hanya akan menjadi kiasan/pajangan
semata jika tidak direalisasikan secara langsung oleh umat manusia itu sendiri.
Berawal dari diri sendiri untuk turut menciptakan kebersihan Pura Goa Giri
Putri, karena merasa memiliki pura tersebut.
Di dalam Agama Hindu, Tri Hita Karana menjadi
suatu konsep yang sangat fundamental bagi Umat Hindu dalam menjalani ataupun
melaksanakan setiap aktivitasnya di dalam kehidupan sosial masyarakat. Begitu
halnya dengan merealisasikan ajaran Tri Hita Karana, salah
satunya yakni turut menjaga hubungan yang harmonis antara manusia dengan
lingkungannya yang sering juga disebut dengan palemahan dalam Tri
Hita Karana.Selain itu manusia juga turut menjaga hubungan yang harmonis
baik antara manusia dengan sesamanya (pawongan) dan juga hubungan yang
harmonis antara manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (parhyangan).
Begitu pula halnya dengan menjaga kebersihan Pura Goa Giri Putri agar tetap
terjaga keindahan dan keasriannya. Diperlukan sikap setiap umatnya untuk dapat
menerapkan ataupun melaksanakan secara nyata ajaran Tri Hita
Karana dengan kesungguhan hati terutama dalam bidang palemahan,
untuk dapat mewujudkan Pura Goa Giri Putri yang bebas dari tebaran sampah
plastik sisa upakara.